PT Freeport Indonesia memproyeksikan produksi katoda tembaga pada tahun 2026 dapat mencapai 400.000 ton. Produksi ini bersumber dari dua fasilitas pemurnian utama di Gresik, yaitu PT Smelting dan Smelter Manyar.
“Total kira-kira mungkin sekitar hampir 400.000 ton, termasuk PT Smelting dan Manyar," beber Tony di Jakarta.”
— PT Freeport Indonesia
PT Freeport Indonesia mengungkapkan bahwa total produksi katoda tembaga perusahaan pada tahun ini diperkirakan mampu mencapai angka 400 ribu ton. Pasokan produksi tersebut bersumber langsung dari dua fasilitas pemurnian utama yang beroperasi di kawasan Gresik, Jawa Timur.
Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa porsi produksi katoda tembaga dari Smelter Manyar diperkirakan berkisar sekitar 50 persen dari kapasitas produksinya. Sementara itu, sebagian sisa kapasitas produksi lainnya ditopang oleh operasional PT Smelting.
"Total kira-kira mungkin sekitar hampir 400.000 ton, termasuk PT Smelting dan Manyar," beber Tony saat memberikan keterangan di Jakarta, dikutip Senin.
Dengan beroperasinya kedua fasilitas pemurnian ini, Freeport optimistis target hilirisasi produk tambang di dalam negeri dapat berjalan secara optimal dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian nasional.
Kesiapan Konsentrat dan Operasional Smelter Manyar
Pasokan bahan baku berupa konsentrat tembaga dari tambang di Papua terpantau telah mulai dikirim dan memasuki area Smelter Manyar di Gresik. Kendati demikian, pihak perusahaan masih menunggu volume bahan baku tersebut mencukupi sebelum menjalankan furnace dalam kapasitas yang lebih besar.
"Sementara ini konsentrat sudah mulai masuk dari Papua, sudah mulai masuk ke Manyar. Jadi mungkin, kan biar volumenya cukup dulu baru kita bakar di furnace," ujar Tony mengenai langkah operasional tahap awal tersebut.
Lebih lanjut, Tony menyebutkan bahwa peningkatan pengoperasian smelter tidak akan langsung digenjot hingga mencapai kapasitas penuh pada bulan September mendatang. Kapasitas operasional Smelter Manyar diperkirakan masih berada di bawah angka 30 persen pada fase awal.
Hingga penghujung tahun ini, volume produksi bijih tembaga dari sektor tambang bawah tanah milik Freeport diproyeksikan baru akan mencapai sekitar 65 persen dari total kapasitas keseluruhan fasilitas pengolahan.
Read Also
Profil Deutsche Bank Lembaga Keuangan Multinasional Jerman
Deutsche Bank adalah perusahaan jasa keuangan dan bank investasi...
Kanal China Asia Tenggara Selesai Dibangun dan Siap Beroperasi September
Proyek pembangunan Kanal Pinglu sepanjang 134,2 kilometer yang menghubungkan...
Perusahaan Penjara Swasta Raup Pendapatan 1,4 Miliar Dolar Seiring Lonjakan Penahanan Imigran
Dua perusahaan penjara swasta terbesar di AS, CoreCivic dan GEO Group,...
Mengenal Pajak Sewa Kontrakan dan Tarifnya Berdasarkan Ketentuan PPh Final
Penghasilan dari menyewakan rumah kontrakan atau bangunan termasuk dalam...
Profil Proyek Strategis Smelter Manyar di Gresik
Fasilitas smelter milik PT Freeport Indonesia merupakan proyek pemurnian konsentrat tembaga megah yang berlokasi strategis di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur. Proyek pembangunan ini telah dimulai sejak Oktober 2021 dan sukses mencatatkan produksi katoda tembaga perdana pada akhir September 2024 lalu.
Proyek smelter dengan desain jalur tunggal terbesar di dunia ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan mencapai 1,7 juta ton konsentrat tembaga setiap tahunnya. Fasilitas ini mampu menghasilkan sekitar 600.000 hingga 700.000 ton katoda tembaga per tahun.
Akumulasi nilai investasi untuk pembangunan proyek Smelter Manyar yang berdiri di atas lahan seluas 100 hektare ini mencapai angka fantastis US$ 3,7 miliar atau setara dengan Rp 58 triliun demi mendukung efisiensi pemurnian maksimal.
Selain unit pemurnian utama, kompleks smelter ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti unit logam mulia, oksigen, asam sulfat, desalinasi, serta pengelolaan air limbah guna memastikan proses peleburan berjalan ramah lingkungan.