Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (11/8/2026) ke posisi Rp17.830 per dolar AS. Pelemahan ini mematahkan tren penguatan selama empat hari sebelumnya di tengah sikap pelaku pasar yang menantikan data inflasi AS serta dinamika domestik.
“Nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,45% ke posisi Rp17.830/US$ pada perdagangan Selasa setelah sempat menguat sebelumnya.”
— Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, sekaligus mematahkan tren penguatan selama empat hari perdagangan sebelumnya. Tekanan jual mendera mata uang Garuda setelah bergerak di zona merah sepanjang hari perdagangan.
Merujuk data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,45% ke posisi Rp17.830 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya di hari Senin, mata uang Garuda sempat ditutup menguat 0,75% ke level Rp17.750 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah telah terlihat sejak awal sesi pembukaan ketika melemah 0,17% di posisi Rp17.780 per dolar AS. Pergerakan harian terpantau berada dalam rentang sempit antara level Rp17.770 hingga Rp17.850 per dolar AS sepanjang hari.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,07% ke posisi 99,883. Pergerakan tersebut melanjutkan kenaikan yang dibukukan indeks dolar pada perdagangan sebelumnya.
Faktor Eksternal dan Penantian Data Inflasi AS
Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika pelaku pasar global tengah menantikan pengumuman inflasi konsumen AS periode Juli yang dijadwalkan rilis pada Rabu waktu setempat. Data penting tersebut akan menjadi petunjuk krusial dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS berikutnya.
Dolar AS sebelumnya mendapat dukungan signifikan dari lonjakan harga minyak mentah yang naik lebih dari 4% sehari sebelumnya. Harga energi meningkat akibat tensi geopolitik antara Iran dan AS yang memperkecil harapan tercapainya pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Kenaikan harga minyak dunia tersebut kembali memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor terhadap potensi kembalinya tekanan inflasi di AS. Kendati demikian, ruang penguatan lanjutan bagi dolar AS masih dibatasi oleh rilis data ketenagakerjaan yang jauh lebih lemah dari perkiraan awal.
Pelaku pasar keuangan saat ini mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada pertemuan September sebesar 52%, yang mengalami penurunan dari angka 67% pada sepekan sebelumnya.
Read Also
Freeport Indonesia Perkirakan Produksi Katoda Tembaga 2026 Capai 400.000 Ton
PT Freeport Indonesia memproyeksikan produksi katoda tembaga pada tahun 2026...
Rantai Bar Olahraga Dueling Axes Tutup Seluruh Lokasi Tanpa Kebangkrutan
Rantai bar olahraga dan lempar kapak populer Dueling Axes resmi menutup...
APPI Ungkap Alasan Multifinance Kerap Gunakan Jasa Debt Collector
Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno menjelaskan alasan perusahaan pembiayaan...
Mengenal Pajak Sewa Kontrakan dan Tarifnya Berdasarkan Ketentuan PPh Final
Penghasilan dari menyewakan rumah kontrakan atau bangunan termasuk dalam...
Perkembangan Domestik dan Penilaian Bank Indonesia
Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan kinerja penjualan eceran pada Juni 2026 tumbuh positif sebesar 0,7% secara bulanan. Pertumbuhan ini terjadi setelah sempat mengalami kontraksi sebesar 1,5% pada bulan Mei sebelumnya.
Peningkatan penjualan eceran tersebut ditopang oleh subsektor penjualan barang lainnya, suku cadang dan aksesori, serta perlengkapan rumah tangga. Tren positif ini terjaga dengan baik seiring tingginya permintaan masyarakat selama periode libur sekolah dan Hari Besar Keagamaan Nasional.
Selain indikator ritel, para pelaku pasar di dalam negeri juga masih mencermati proses transisi kepemimpinan di tubuh Bank Indonesia. Komisi XI DPR RI dijadwalkan segera memproses uji kepatutan dan kelayakan terhadap calon tunggal Gubernur BI.
Destry Damayanti saat ini masih menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo. Kepastian jadwal uji kelayakan tersebut kini masih menunggu koordinasi lebih lanjut dari pimpinan Komisi XI DPR.